Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Jokowi dan Trudeau, Gaya Merebut Hati Milenial

Ahad 29 April 2018 08:33 WIB

Red: Andri Saubani

Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau (kanan) saat pertemuan KTT G-7 Outreach Sesi I di Ise-Shima, Jepang, Jumat (27/5).(Antara/Yudhi Mahatma)

Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau (kanan) saat pertemuan KTT G-7 Outreach Sesi I di Ise-Shima, Jepang, Jumat (27/5).(Antara/Yudhi Mahatma)

Foto: Antara/ Yudhi Mahatma
Jumlah milenial sangat siginifikan dan bisa menjadi penentu pada Pemilu 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Andri Saubani*

Dua pekan jelang Pemilu 2015 di Kanada, komedian Rick Mercer dalam sebuah siaran radio berkata, “Jika para pemuda dan pemudi datang ke TPS untuk memilih, itu akan mengubah semuanya.” Dan Rick benar.

Untuk kali pertama dalam sejarah politik Kanada, hasil Pemilu 2015 menunjukkan statistik yang mengejutkan. Setelah sempat menyentuh angka terendah pada 2018, di mana hanya 58,8 persen dari pemilih terdaftar mencoblos di TPS, pada 2015 persentasenya mencapai 70 persen, tertinggi dalam sejarah pemilu di Kanada sejak 1993.

Sebuah studi oleh kelompok nonpartisan, Samara Canada menyatakan, kaum milenial (mereka yang lahir pada kurun 1981-1999) di Kanada malah lebih aktif secara politik dibandingkan dengan pemilih berusia di atas 30 tahun pada Pemilu 2015. Berdasarkan pengamatan Institut Angus Reid, para milenial di Kanada aktif memilih juga karena isu-isu serius, misalnya, mereka yakin pemerintah bisa mempengaruhi ekonomi.

Pemilih milenial ini, diyakini sebagai faktor kemenangan telak Partai Liberal (meraih 184 kursi parlemen) yang kemudian mengantarkan Justin Trudeau ke puncak jabatan sebagai Perdana Menteri Kanada. Sebelumnya, pada Pemilu 2011, Partai Liberal bisa dibilang kalah telak. Mereka hanya berhasil meraih 34 kursi dari 308 kursi parlemen yang tersedia. Hasil terburuk dalam sejarah partai itu membuat mereka berstatus partai peringkat ketiga dalam sejarah konfederasi Kanada.

Belajar dari kekalahan pada 2011, Trudeau dan partainya berbenah sambil membidik potensi suara kaum milenial dan bagaimana cara membuat mereka mau mencoblos (Partai Liberal) di TPS. Berbeda dengan partai lain, slogan kampanye Partai Liberal pun dibikin sederhana agar pesannya sampai kepada kaum muda, “Perubahan nyata (sekarang)” atau dalam bahasa Prancis, “Changer ensemble (maintenant)”.

Trudeau dan Partai Liberal yakin, apatisme kaum muda dalam politik hanyalah mitos. Yang terjadi selama ini adalah, para politikus kerap dilatih untuk percaya pada ketidakminatan para pemilih muda untuk pergi ke TPS dan memilih. Sehingga, pesan politik dari para politikus tidak pernah sampai kepada para milenial yang berakibat mereka apatis. Sebuah siklus.

Atas alasan di atas, Trudeau menyeriusi suara mengambang milenial termasuk aktif total di media sosial (medsos).  Dengan kepribadian santai, muda, dan rupawan, Trudeau menyediakan dirinya untuk sering berswafoto, membuat vlog, dan aktivitas lainnya di berbagai platform medsos, plus tidak lupa sering berswafoto.

Partai Liberal pun membuat banyak meme yang quotable yang viralitasnya tak terpikirkan oleh lawan politik. Salah satu kutipan Trudeau yang viral adalah saat ia diwawancara oleh Vice, “Saya ingin kalian para pemuda memilih Partai Liberal, tapi saya tak peduli (atas pilihan kalian) selama kalian datang (ke TPS) dan memilih.”

Fenomena Pemilu 2015 di Kanada meretas optimisme politik masa depan dalam konteks global. Terlebih, tren apatisme kaum muda terhadap politik di sebagian besar bagian dunia seperti catatan Economist pada 2014, terus bereskalasi dalam kurun sepuluh tahun terakhir.

Para pengincar kursi kekuasaan di Indonesia baik eksekutif maupun legislatif pun harus sadar akan potensi besar dan menentukan pemilih milenial pada Pemilu 2019. Hingga kini, belum ada angka pasti berapa jumlah pemilih milenial di Indonesia pada 2019. Namun, banyak lembaga survei memprediksi angkannya pada kisaran 40 persen.

Angka 40 persen adalah persentase yang signifikan dan bisa menjadi sangat menentukan. Dan menurut survei CSIS pada Agustus 2017, mayoritas milenial aktif di media sosial. Sebanyak 81,7 persen generasi milenial adalah pengguna Facebook, 70,3 persen menggunakan Whatsapp, dan 54,7 persen memiliki Instagram.

Joko Widodo (Jokowi) sebagai incumbent bersama timnya pun mengincar potensi pemilih milenial pada Pemilu 2019. Setelah diumumkan menjadi calon presiden (capres) oleh PDIP melalui Twitter pada 23 Februari, Jokowi selanjutnya hingga kini menyelingi kegiatan resmi kepresidenannya dengan aktivitas-aktivitas ‘gaul’.

Beberapa kegiatan santai Jokowi sama dengan yang juga dilakukan oleh Trudeau seperti berlatih tinju (diunggah dalam sebuah vlog di Youtube) dan menonton bioskop. Yang paling spektakuler tentunya saat Jokowi konvoi bersama beberapa menterinya mengendari chopper saat kunjungan kerja ke Sukabumi pada awal bulan ini. Semua itu demi citra Jokowi merebut hati para pemilih kekinian.

Hanya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang sampai saat  ini disebut-sebut sebagai penantang serius Jokowi di Pilpres 2019. Bakal capres alternatif seperti Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo bisa saja menghadirkan kejutan pada saat-saat akhir pendaftaran capres pada Agustus nanti. Namun, bisa dibilang mereka ‘kalah start’ oleh Jokowi dalam konteks upaya perebutan suara milenial.

Prabowo bisa dibilang belum atau tidak mengubah gayanya yang berlatar belakang militer. Pembawaannya yang tegas dan keras masih menjadi citra yang dijual kepada publik. Berbeda dengan cara yang diambil Jokowi, langgam kampanye Prabowo malah mirip seperti apa yang dilakukan Donald Trump yang berhasil menang Pilpres di Amerika Serikat pada 2016.

Seperti Trump, Prabowo menyerang elite dengan menyebar hal-hal yang gawat berpotensi terjadi pada masa depan jika tidak ada pergantian kekuasaan. Narasi ‘Indonesia bisa bubar pada 2030’ menjadi salah satu contoh yang dijual Prabowo dan sempat sukses menjadi virus virtual (viral).  Menarik ditunggu apakah Prabowo akan tetap teguh dengan gayanya ini jika nanti secara resmi diumumkan menjadi capres.

Merujuk pada Pemilu Kanada pada 2015 dan fenomena serupa di beberapa negara, tren apatisme keterlibatan kaum muda dalam politik sepertinya memang tidak harus menjadi permanen. Karena, pada saat pemilih muda sadar suaranya menentukan, mereka tak akan segan datang ke TPS dan mencoblos.

Seperti bahasa Harvard International dalam satu ulasan politiknya, “Para milenial bukanlah orang-orang pemalas, kurang informasi, atau bahkan nonpartisan. Mereka hanya membutuhkan motivasi dan kondisi yang tepat untuk terlibat dalam demokrasi.”

 

*Penulis adalah redaktur Republika

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES