Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Gol untuk Tuhan, Agama di Lapangan Hijau

Jumat 27 April 2018 11:32 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Selebrasi bersyukur kepada Tuhan di lapangan sepak bola.

Selebrasi bersyukur kepada Tuhan di lapangan sepak bola.

Foto: Republika/Antara/EPA/Reuters
religiusitas yang kian kentara di lapangan hijau sepak bola belakangan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami, wartawan Republika

Mulai dari sujud Muhammad Salah di Anfield dan nyanyian siap jadi Muslim penggemarnya; doa bersama Ngurah Nanak-Yabes Roni-Miftahul Hamdi, tiga pemain beda agama, di I Wayan Dipta, Gianyar; hingga lingkaran pemain yang berlutut menyampaikan syukur secara Kristiani selepas gol di Stadion Mandala, Jayapura; sukar tak melihat religiusitas yang kian kentara di lapangan hijau sepak bola belakangan.

Berkebalikan dengan tren di sebagian dunia di mana agama dilihat sebelah mata dan dituding jadi biang kekacauan, para pemain sepak bola tak malu menunjukkan afiliasi keimanan masing-masing kala pertandingan berlangsung di hadapan ribuan bahkan jutaan pasang mata. Keadaannya tak selalu seperti itu.

Pada 2009, misalnya, Presiden FIFA Sepp Blater sempat meradang saat menyaksikan pemain-pemain Brazil berkumpul dan berdoa bersama dalam pertandingan di Piala Konfederasi. Ia menyebut gestur itu berbahaya, menekankan tak ada tempat buat agama dalam sepak bola, dan menjanjikan pelarangan ekspresi keagamaan dalam Piala Dunia 2010. Hanya selepas diprotes Vatikan, FIFA kemudian meralat sikap mereka.

Sebelum jadi kewajaran macam sekarang, pemain bola Muslim yang bersujud selepas mencetak gol sempat diolok-olok tengah memakan rumput oleh komentator Gary Lineker di Inggris pada 2012. Di Indonesia, baru selepas 2013 para pemain nasional dan kompetisi lokal yang Muslim kian kerap bersujud selepas gol tercipta. Saat itu, tren sujud selepas gol di Tanah Air dipopulerkan para pemain Timnas U-19.

Mengapa kemudian lapangan sepak bola jadi lahan yang subur untuk doa-doa dan sukar dipisahkan dari ekspresi keagamaan? Indra Sjafrie tak bisa lupa pada malam 22 September 2013 di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Saat itu, Timnas Indonesia U-19 yang ia asuh sudah hampir 90 menit berupaya membobol gawang lawan mereka, Timnas U-19 Malaysia, dalam laga final Piala AFF 2013. Waktu normal menipis dan akhirnya habis, babak tambahan diberlakukan, tetap tak ada gol yang bisa disarangkan Evan Dimas dan rekan-rekannya.

Pelatih itu mengingat, ia tiba pada titik kehabisan taktik dan strategi untuk menangani perlawanan musuh. Terlebih, para pemain mulai nampak kelelahan. Menjelang berakhir waktu pertandingan, dengan hasil imbang yang terus bertahan, Indra Sjafrie bersujud.

“Dalam hati saya bilang, ‘sudah habis kemampuan saya. Sekarang semuanya terserah Engkau, ya Allah’,” kata Indra Sjafrie kepada Republika.co.id menuturkan pengalaman tersebut.

Yang terjadi kemudian tercatat dalam sejarah. Untuk pertama kalinya Timnas Indonesia U-19 berhasil merengkuh trofi Piala AFF melalui tos-tosan adu penalti yang berjalan sedemikian ketat dengan skor 7-6.

Jurgen Klopp juga pelatih yang tak ragu menunjukkan imannya di tengah masyarakat Jerman yang kian memandang agama sebagai barang kuno. Pada 2003, klub yang ia latih, Mainz 05, menyelesaikan pertandingan terakhir musim itu dan selangkah lagi naik kasta ke Bundesliga.

Kesempatan itu kemudian digagalkan gol semata wayang pada menit terakhir di pertandingan lain yang dicetak saingan mereka, Eintracht Frankfurt. Seorang wartawan kemudian iseng berkomentar bahwa dewa sepak bola tak mendukung Mainz kala itu.

Mendaku sebagai seorang Kristen, Klopp bergeming. “Saya tak percaya dewa sepak bola. Saya hanya percaya Tuhan dan bahwa segalanya terjadi untuk alasan tertentu. Suatu saat, saya akan mengetahui apa arti kejadian hari ini”, kata dia menjawab sang wartawan.

Sejak itu, kariernya melejit. Selepas menukangi Borrusia Dortmund dengan cemerlang, ia kemudian ke Liverpool dan membikin banyak kejutan. Komentator memuji taktiknya, tetapi keyakinan Klopp tak lepas. “Saya begini karena saya di tangan Dia Yang Luar Biasa Baik”, ujarnya dalam wawancara dengan fr-online.de, beberapa waktu lalu.

Indra Sjafrie mafhum, demikianlah sepak bola. Ia adalah satu dari sedikit saja olah raga yang memiliki berlaksa-laksa faktor penentu hasil akhir selain kebisaan pemain atau taktik pelatih.

Seberapa pun kerasnya seorang pemain berlatih, sehebat apapun bakatnya, ia hanya satu dari 21 orang lainnya di lapangan hijau. Semisal timnya bermain bagus dan lawan sedang payah, kejelian atau silap mata tiga orang wasit bisa juga bisa jadi penentu kemenangan atau justru membuat kalah.

Ini membuat Indra Sjafrie tak sedemikian heran dengan tren religiusitas yang muncul di lapangan hijau belakangan. Dalam sepak bola, 'campur tangan Tuhan' adalah persepsi yang sedemikian melekat.

Bukan kebetulan juga, Indra Sjafrie menggunakan parameter relijiusitas dalam memilih pemain-pemainnya selain kebisaan individual dan kecerdasan memahami taktik. Hal itu ia terapkan lintas agama. “Untuk pemain yang Nasrani, saya meminta asisten mengantarnya pergi ke gereja,” kata Indra Sjafrie.

Tentu, kisah soal relijiusitas dan sepak bola bukan sepenuhnya bebungaan. Meski sekarang mereda, dunia sepak bola mencatatkan persaingan sektarianisme Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers yang berlangsung berpuluh-puluh tahun.

Kendati demikian, dengan silang arus pemain yang kian beragam latar belakangannya, toleransi mau tak mau jadi pilihan. Dalam hal ini, sepakbola bisa juga jadi pamflet kampanye untuk harmoni. “Kami tidak merencanakannya, namun ia kemudian jadi pesan positif. Saya harap ini bisa berdampak baik bagi semua orang,” kata Ngurah Nanak kepada Reuters soal foto perayaan gol tiga agama Bali United yang menggemparkan dunia tahun lalu.

Ia mengungkapkan, bersama Yabes Roni dan Miftahul Hamdi sedianya hanya berniat mengucapkan syukur. Apa mau dikata, yang mereka tampilkan kemudian jadi pesan tersendiri.

Dalam satu dan lain hal, Indra Sjafrie mengamini hal ini. Pertunjukkan keyakinan di lapangan hijau bukan cek kosong. Dengan menunjukkan afiliasi keagamaan mereka, para pemain jadi duta agama masing-masing.

“Saya bukan ustaz, (Muhammad) Salah bukan ustaz, karena Allah sudah memberikan keahlian tersendiri bagi masing-masing orang. Tapi kami tetap harus menunjukkan Islam yang baik”.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES