Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Mengatasi Banjir Jakarta

Rabu 07 February 2018 05:49 WIB

Red: Elba Damhuri

Warga beraktivitas saat banjir melanda ruas jalan Jatinegara Barat, Jakarta, Selasa(6/2).

Warga beraktivitas saat banjir melanda ruas jalan Jatinegara Barat, Jakarta, Selasa(6/2).

Foto: Republika/Prayogi
Mengalirkan luapan air kiriman ke situ-situ menjadi salah satu solusi banjir Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID Banjir kembali merendam Ibu kota Jakarta sejak Senin (5/2). Hujan deras yang melanda Bogor, Jawa Barat, pada Ahad dan Senin memberi sumbangan yang cukup besar dalam musibah banjir kali ini.

Kiriman banjir dari Kota Hujan melalui Sungai Ciliwung menyebabkan sejumlah wilayah di Ibu Kota mengalami musibah banjir. Lokasi-lokasi langganan banjir, seperti di sekitar Condet, Kalibata, dan Kampung Melayu tak bisa menghindar dari luapan Sungai Ciliwung.

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta sampai Selasa (6/2) pagi, setidaknya ada 140 rukun tetangga (RT) dan 48 rukun warga (RW) yang terimbas langsung banjir ini dengan jumlah pengungsi 6.532 jiwa. Mereka berasal dari Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sebagian besar merupakan penduduk Jakarta Selatan.

Kita turut prihatin dengan musibah yang melanda warga DKI Jakarta ini. Apalagi, setiap musibah seperti ini pasti akan menyebabkan aktivitas warga terganggu.

Para pedagang terpaksa menghentikan jualannya. Mereka yang bekerja sebagai pegawai juga tidak bisa berangkat ke kantor. Anak-anak sekolah pun terpaksa harus meliburkan diri. Masih banyak lagi persoalan yang muncul setiap kali musibah ini terjadi walaupun banjir bukan hal baru bagi mereka.

Para korban banjir yang mengungsi di sejumlah tempat memerlukan bantuan semua pihak. Kita tidak bisa mengandalkan Pemprov DKI saja untuk mengatasi para pengungsi. Saatnya kita mengulurkan tangan dengan memberi bantuan kepada mereka. Bantuan yang kita berikan bisa berupa makanan ataupun sandang.

Pada saat bersamaan, kita juga berharap banjir yang melanda wilayah DKI Jakarta bisa segera surut. Dengan demikian, warga dapat kembali beraktivitas secara normal. Mereka dapat kembali ke rumahnya masing-masing.

Namun, kita pun tidak ingin saat banjir kiriman dari Bogor surut maka selesai juga persoalan banjir di wilayah tersebut. Ini adalah persoalan dari dulu yang belum diselesaikan. Puluhan tahun sejumlah wilayah di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur selalu menjadi langganan banjir.

Dan faktanya, sampai saat ini persoalan tersebut belum dapat ditanggulangi. Ancaman banjir di wilayah ini seakan sulit diatasi. Padahal, Indonesia merupakan negara besar yang memiliki ahli di berbagai bidang.

Sangat aneh bila kita tidak mampu mengatasi persoalan banjir di wilayah Jakarta. Apalagi, Jakarta adalah ibu kota negara yang menjadi simbol negara sehingga harus dijaga secara maksimal dari potensi bencana seperti banjir.

Kita banyak memiliki ahli yang dapat menyelesaikan masalah banjir kiriman itu. Namun, dibutuhkan kesungguhan dari pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini. Bukan hanya Pemerintah DKI Jakarta, melainkan juga pemerintah pusat.

Pemerintah pusat harus turun tangan karena persoalan banjir kiriman itu tidak hanya menyangkut masalah di Provinsi DKI Jakarta, tetapi juga berhubungan dengan Provinsi Jawa Barat. Semua tahu, salah satu sumber banjir kiriman itu hulunya berada di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Pemprov DKI Jakarta harus bekerja sama dengan Pemprov Jawa Barat untuk memperbanyak wilayah resapan air di daerah hulu. Pemerintah Jawa Barat, termasuk Pemda Bogor, harus memiliki komitmen yang besar dalam pelestarian wilayah hulu, termasuk memperketat perizinan bangunan untuk daerah-daerah yang seharusnya menjadi resapan air.

Pemprov DKI sendiri harus mencari solusi yang tepat untuk mengalihkan luapan air dari Sungai Ciliwung akibat banjir kiriman. Sebelum ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan, salah satu solusi mengatasi banjir kiriman adalah dengan mengalihkan luapan air sungai ke situ-situ yang ada di DKI. Situ-situ ini harus diremajakan.

Namun, Pemprov DKI juga harus menjamin, aliran air Sungai Ciliwung itu dapat masuk ke situ-situ dengan lancar sehingga tidak perlu menggenangi wilayah-wilayah di DKI Jakarta sebelum tiba di situ. Faktor lain yang dapat mengurangi potensi banjir kiriman di sekitar wilayah aliran Sungai Ciliwung adalah peran serta masyarakat.

Masyarakat harus mendukung langkah pemerintah bila suatu ketika ingin menormalisasikan bantaran Sungai Ciliwung sehingga membuat masyarakat di wilayah itu terpaksa dipindahkan. Tanpa adanya peran serta masyarakat, program menanggulangi banjir kiriman di DKI akan sulit diwujudkan.

(Tajuk Koran Republika hari ini).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES