Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Susul Italia

Sabtu 03 February 2018 03:03 WIB

Red: Agus Yulianto

Frederikus Bata

Frederikus Bata

Foto: doc
Pemandangan di negeri Ratu Elizabeth kali ini seakan mirip terjadi di Seri A Italia.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wartawan Republika, Frederikus Bata (Instagram @edocz)

Liga Primer Inggris musim ini terbilang monoton. Manchester City berlari sendirian di puncak tabel klasifika kompetisi paling bergengsi di daratan Ratu Elizabeth.

Hingga matchday ke-25, kompetisi paling elite di bumi Inggris itu bergulir, skuat berjuluk the Citizens ini masih tampak duduk nyaman di singgasana tanpa banyak gangguan. Sergio Aguero dan rekan-rekan mengumpulkan 68 poin. Nilai tersebut unggul 15 angka di atas Manchester United yang menguntitnya di peringkat kedua. Dari jarak tersebut terlihat sebuah ketimpangan di papan atas yang begitu menganga.

Kondisi ini menjadi tak lazim. Ini mengingat dalam beberapa tahun belakangan, persaingan para elite ranah Inggris itu selalu saja memanas. Musim 2017/2018, baik Manchester United, Chelsea, Liverpool hingga Tottenham Hotspur, seolah berebut posisi kedua. Lantas ada apa dengan para rival Manchester Biru ini?

Secara kualitas, komposisi pemain the Blues, Iblis Merah, the Reds, hingga Spurs, sebenarnya tak berbeda jauh dengan the Citizens. Mungkin faktor Josep Guardiola yang membedakan plus dengan kedalaman skuat yang kini dimiliki skuat yang bermarkas di Etihad Stadium ini.

Dalam artian, para pengisi starting XI bolehlah ada pemerataan di antara para pemain top. Namun jika bicara pelapis, City masih unggul. Pemain seperti Claudio Bravo, Ilkay Gundogan, Bernardo Silva, hingga Danilo hanya menjadi penghangat bangku cadangan. Magic dari Guardiola yang memainkan permainan sepak bola menyerang nan efektif, tentunya turut pula membuat perbedaan dari sisi hasil.

Suara-suara yang menilai, anak asuh Pep bakal mengklaim gelar lebih cepat mulai nyaring terdengar. Inkonsistensi para rival menguatkan hal itu. Tengok saja kondisi pada matchday ke-25 Liga Inggris.

Di saat Manchester Biru digdaya menghancurkan West Bromwich Albion tiga gol tanpa balas, pesaingnya malah melempem. Chelsea dihajar AFC Bournemouth dengan skor serupa di Stamford Bridge. Pun demikian dengan United yang ditaklukkan Tottenham 0-2 di Wembley.

Tawa Kevin de Bruyne dan rekan-rekan tentunya makin melebar. Statistik lainnya menonjolkan kedahsyatan the Citizens pada musim 2017/2018. Tim berumur 138 tahun ini menjadi satu-satnya klub Inggris yang masih berlaga di empat kompetisi. Tentunya ini menjadi pencapaian yang luar biasa bagi Guardiola bersama anak asuhnya.

Pemandangan di negeri Ratu Elizabeth kali ini seakan mirip dengan apa yang terjadi di Seri A Italia. Hal ini mengacu pada dominasi Juventus dalam enam tahun terakhir. SI Nyonya Tua meraih enam scudetto, tiga gelar Coppa Italia, juga tiga trofi Piala Super Italia.

Tim-tim seperti Napoli, AS Roma, hingga Lazio hanya berebut kursi runner up. Hal ini diperparah dengan kemunduran AC Milan dan Inter Milan. Kendati demikian musim ini sedikit berimbang.

Napoli sejak pertengahan musim sudah mulai mengancam terhadap hegemoni Juve di kompetisi Seri A. Inter dan Milan pun bersaing keras melawan Roma untuk berebut jatah Liga Champions. Ketika Italia mulai jenuh dengan penguasa tunggal, Inggris justru baru memulai. Ke depan, semoga olahraga yang paling dicintai umat manusia ini lebih kompetitif. Karena saya percaya ketika persaingan itu semakin ketat maka di sanalah lahir kualitas mumpuni yang siap menghibur para pemuja sepak bola.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES