Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Pemuda Muslim Siap Mewujudkan Indonesia Berdaya

Kamis 25 Januari 2018 08:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Triadi Aulia Rahman (Ketua LDK Al Hurriyyah IPB Tahun 1439 H)

Triadi Aulia Rahman (Ketua LDK Al Hurriyyah IPB Tahun 1439 H)

Foto: dok. Pribadi
Sebagai agen perubahan, pemuda Muslim Indonesia harus berkontribusi nyata.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Triadi Aulia Rahman *)

Pemuda dikenal sebagai agen perubahan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan (Pasal 17 Ayat 3) bahwa pemuda memiliki peran aktif sebagai agen perubahan yang diantaranya diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik, sumberdaya ekonomi, peduli masyarakat, ilmu pengetahuan, kepemimpinan dan kepeloporan pemuda. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak perintisan pergerakan kebangsaan Indonesia, pemuda berperan aktif sebagai ujung tombak dalam mengantarkan bangsa dan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.

Kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran pemuda Muslim. Kondisi penjajahan dan penindasan waktu itu melahirkan pemahaman bagi rakyat Indonesia bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau nasionalisme. Seperti yang dituliskan oleh Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku Api Sejarah, bagaimana perjuangan ulama dan santri dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ulama menjadi pembangkit gerakan kesadaran nasional Indonesia dan santri turut mengambil peran dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Jika melihat sejarah Islam pada masa kekhalifahan bahwa pemuda memang mendukung kejayaan Islam. Kembali merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan bahwa usia pemuda adalah rentang 16 sampai 30 tahun. Di rentang usia tersebut, sosok seperti Abdurrahman an-Nashir yang mendaulat dirinya sebagai khalifah pertama Dinasti Umayyah di Eropa pada usia 22 tahun, Muhammad al-Fatih berhasil taklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun, Umar bin Abd al-Aziz menjadi gubernur Hijaz pada usia 24 tahun, dan Salahuddin al-Ayyubi melakukan Perang Salib di Palestina pada usia 26 tahun.

Setelah memahami bersama bahwa pemuda merupakan agen perubahan, khususnya pemuda Muslim Indonesia, tidak boleh diam tanpa kontribusi nyata. Ada dua alasan yang sesuai dengan pembicaraan di atas. Pertama, Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah jumlah usia angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun atau usia produktif  mencapai 70 persen. Sedangkan 30 persen penduduknya adalah berusia tidak produktif yaitu usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun.

Kedua, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Dalam laporan Pew Research, sebuah lembaga riset global, mencatat pada 2010 Indonesia menempati urutan teratas sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Pada tahun itu tercatat 209,1 juta jiwa lebih penduduk Indonesia merupakan muslim. Pada hari ini muslim menjadi target pasar bisnis internasional.

Banyak produk  bisnis yang berlabel syariah. Halal juga sudah menjadi life style. Minat masyarakat terhadap perbankan syariah menjadi bukti. Menurut data OJK, jumlah rekening mencapai 26,57 juta per Oktober 2017 jika dibandingkan Desember 2016 hanya 23,45 juta. Dua alasan tersebut di atas harus dimanfaatkan sebagai bantu loncatan mewujudkan Indonesia Berdaya.

Sekarang sudah tahun 2018, artinya dua tahun lagi bonus demografi akan kita jumpai. Insya Allah. Sebagai upaya kongkrit di awal tahun ini, Beasiswa Aktivis Nusantara Regional Bogor dan Gerakan Cinta Anak Tani membuat sebuah project yang dinamakan Youth For Movement 2018 (#Youth4Move2018). Youth4Move2018 merupakan serangkaian kegiatan capacity building aktivis di 3 negara ASEAN (Malaysia, Singapura, dan Thailand) pada tanggal 23-28 Januari 2018 dengan mengangkat tema "Melihat dari Luar, Membangun Cita, Merawat Indonesia".

Tour 3 negara ini bertujuan untuk belajar tentang kepemerintahan, ekonomi Islam dalam mengurangi kemiskinan, meningkatkan jiwa kepemimpinan, memahami peran pemuda, perkembangan Islam, perencaan perkotaan yang berkelanjutan, dan social movement di sekolah WNI. Mohon doa dan dukungan dari teman-teman semuanya agar kelak kita bisa berkolaborasi dalam menciptakan kebaikan bersama (sekali lagi) untuk mewujudkan Indonesia berdaya.

*) Ketua LDK Al Hurriyyah IPB Tahun 1439 H

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES