Jumat, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 Februari 2018

Jumat, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 Februari 2018

Setiap Anak adalah Berbeda

Selasa 23 Januari 2018 08:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Eka Putri Handani

Eka Putri Handani

Foto: dok. Pribadi
Membangun komunikasi dan hubungan merupakan hal penting dalam pendidikan inklusi.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Eka Putri Handayani *)

Merupakan kesempatan dan pengalaman berharga menjadi bagian dalam Program Achieving Education for all Through Indonesian-Australian Collaborations Short Course, Australian Awards Fellowship 2017. Program ini merupakan hasil kerja sama antara University of Sydney Australia dan PPPPTK TK dan PLB Bandung.

Selama tiga pekan, saya menimba ilmu dan pengalaman tentang pendidikan inklusif di Australia bersama 13 peserta lainnya yang mewakili beberapa provinsi di Indonesia. Saya mewakili provinsi DKI Jakarta. Short course tersebut semakin membuka mindset saya tentang pentingnya pendidikan inklusif. Anak berkebutuhan khusus yang belajar di sekolah regular akan mengalami percepatan dan tumbuh kembang.

Pendidikan adalah hak semua manusia. Cara dalam mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif antara lain dengan kolaborasi, meningkatkan skill, perencanaan yang baik, pembiayaan yang memadai, melakukan asesmen sejak dini, dan memahami prinsip pendidikan inklusif.

Inklusif adalah pendidikan untuk semua yang mencakup setting keragaman bahasa, latar belakang budaya, agama, etnik, dan keberagaman kemampuan. Dalam setting pendidikan inklusif, semua anak dapat memberikan pengaruh positif, baik anak yang berkebutuhan khusus (ABK)  maupun yang tidak, terutama dalam mengembangkan rasa empati anak-anak yang regular, mengembangkan dan dapat memahami perbedaan.

Anak-anak disabilitas berusaha membangun empati, kepercayaan diri dan pemahaman terhadap lingkungan sekitar. Karenanya guru harus bisa menjembatani keterbatasan antara anak disabilitas dengan anak lainnya. Guru harus membangun situasi pembelajaran yang baik sehingga terjalin komunikasi yang baik antara anak disabilitas dengan anak lainnya, hingga pada akhirnya anak disabilitas memiliki identitas diri yang kuat, mampu berhubungan dan berkonstribusi dengan yang lain, memiliki kepercayaan diri dan terlibat interaksi dengan anak lain serta mampu untuk berkomunikasi.

Membangun komunikasi dan hubungan merupakan hal yang penting dalam pendidikan inklusi. Disabilitas bukanlah sebuah penyakit. Tantangan bagi kita adalah bagaimana membuat mereka lebih bernilai, menikmati keceriaan masa kanak-kanak dan mendukung mereka untuk memaksimalkan potensi diri.

Sudah saatnya Pemerintah Indonesia  memberikan dukungan maksimal kepada sekolah inklusi dalam bantuan fasilitas pendukung untuk ABK. Dan pelatihan dalam meningkatkan skill guru. Sebab salah satu hambatan utama terciptanya inklusi adalah kurangnya pemahaman guru tentang penanganan ABK dan semua  guru diharapkan  memiliki prinsip bahwa “setiap anak adalah berbeda”.

*) Kepala Sekolah KB-TK Islam Alifa Jakarta

Alumni Program Australian Awards Fellowship 2017- University of Sidney

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA