Kamis , 09 Februari 2017, 20:06 WIB

Cara Kementan Kendalikan Harga Ayam

Rep: Andrian Saputra/ Red: Dwi Murdaningsih
Republika/ Edi Yusuf
Pedagang daging ayam menunggu pembeli, di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Kamis (21/1).
Pedagang daging ayam menunggu pembeli, di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Kamis (21/1).

REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI -- Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan fluktuasi harga ayam hidup dan daging ayam, masih menjadi permasalahan  yang dihadapi masyarakat perunggasan di Indonesia. Dia menilai sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan harga, pelaku industri perunggasan didorong untuk mulai melirik eskpor.

"Untuk mengendalikan harga ini adalah dengan membuka pasar di luar negeri, kita harapkan para pelaku industri perunggasan dapat menjual produk daging ayamnya ke pasar di luar negri, sehingga pasar dalam negri dapat diisi oleh peternakan unggas rakyat," kata Diarmita usai mengunjungi industri pengolahan daging ayam di Boyolali pada Kamis (9/2) siang.

Kementan Dorong Indonesia Ekspor Daging Ayam ke Jepang

Dia menjelaskan produksi ayam ras nasional saat ini mengalami surplus. Hal ini karena konsumsi masyarakat terhadap daging ayam, kata dia masih sekitar 10 kilogram per kapita per tahun. Berdasarkan statistik peternakan tahun lalu, populasi ayam ras pedaging (boiler) mencapai 1,59 juta ekor, ayam ras petelur (layer) 162 ribu ekor dan ayam bukan ras 229 ribu ekor atau mengalami peningkatan sekitar 4,2 persen dari populasi pada tahun 2015.

Produksi daging unggas menyumbang 83 persen dari penyediaan daging nasional sedang produksi daging ayam ras menyumbang 66 persen dari penyediaan daging nasional. Menurut dia, industri perunggasan ayam di Indonesia dapat menyediakan produksi daging ayam ras berapapun jumlah yang diminta oleh pasar. Sebab itu peningkatan populasi ayam ras, kata dia, perlu diimbangi dengan seberapa besar kebutuhan atau permintaan untuk menghindari terjadinya penurunan harga akibat over supply daging ayam.

Sementara itu, saat ini, pemerintah tengah mendorong lima unit usaha pengolahan daging ayam untuk dapat melakukan ekspor daging ayam olahan ke Jepang. Kendati demikian, masih menunggu hasil audit tim Kementrian Pertanian Jepang terhadap lima industri tersebut. Diantara perusahaan itu yakni PT Malindo Food Delight Plant Bekasi, PT. So Good Food Plant Cikupa, PT Charoen Pokphand Plant Serang, dan PT Bellfood Plant Gunung Putri dan PT Chaya Gungung Food Plant Boyolali.