Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Kapasitas Peternakan Itik Nasional Perlu Ditingkatkan

Kamis 17 May 2018 18:47 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

Forum Group Discussion yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Forum Group Discussion yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Foto: Dokumen.
Pembiakan dapat berhasil bila dilakukan secara disiplin.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Peningkatan kapasitas peternak itik di Indonesia dirasa perlu dilakukan. Tujuannya, tidak lain demi memenuhi kebutuhan konsumsi daging bebek yang cenderung meningkat di tengah-tengah masyarakat.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk Prospek dan Tantangan Industri Peritikan Nasional yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kegiatan itu diikuti para pelaku industri, akademisi, pemerintah, dan pemangku kebijakan Indonesia.

Diskusi turut dimanfaatkan sebagai wahana membangun dan memperkuat jejaring di antara pemangku kebijakan. Dalam kesempatan itu, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof Jafendi, menyampaikan materi tentang pembiakan peternakan itik.

Ia menekankan, pembiakan dapat berhasil bila dilakukan secara disiplin dan terus mengevaluasi yang tepat dan akurat. Karenanya, dukungan kepakaran ahli pembiakan sangat diperlukan, terutama dalam perbaikan mutu genetik yang berkelanjutan.

Jafendi mengingatkan, penyimpangan pola perkawinan dan seleksi akan menggagalkan usaha perbaikan mutu genetik dan usaha pembiakan selanjutnya. Karenanya, ia mengajak untuk meningkatkan pemberdayaan tiik kampung.

"Pemberdayaan itik kampung sebagai plasma nutfah untuk hibrid masa depan, ini menjadi kunci pengembangan galur itik elit dan unggul," kata Jafendi.

Salah satu pelaku bisnis itik pemilik CV Kuda Hitam, Ardy Wisuku menuturkan, ada tiga langkah penting yang harus dilakukan dalam pengembangan unggas lokal. Langkah awal melakukan peningkatan kapasitas peternak selaku pelaku budi daya.

"Yang ada saat ini kapasitasnya kecil-kecil, hanya sedikit yang memiliki itik di atas 1.000 ekor," ujar Ardy.

Kemudian, harus dilakukan peningkatan kualitas dan kuantitas bibit unggas. Berikutnya, melakukan pendayagunaan dan pengolahan pakan lokal dalam upaya mengurangi ketergantungan impor.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ali Agus mengatakan, forum diskusi yang melibatkan para pemangku kebijakan industri itik dan akademisi ini ditujukan sebagai wadah mereka berdiskusi membahas potensi industri itik nasional.

"Melalui kegiatan diharapkan dapat membangun dan memperkuat jejaring menuju kerja sama yang profesional dilandasi semangat gotong royong," kata Ali.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES