Sabtu, 5 Sya'ban 1439 / 21 April 2018

Sabtu, 5 Sya'ban 1439 / 21 April 2018

Rupiah Melemah 1,65 Persen Sepanjang Februari 2018

Kamis 22 Maret 2018 19:13 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Nidia Zuraya

Petugas menghitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (14/3).

Petugas menghitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (14/3).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Ketidakpastian pasar keuangan global turut menjadi pemicu rupiah melemah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rupiah tercatat melemah sebesar 1,65 persen sepanjang Februari 2018. Bank Indonesia mengamati, nilai tukar rupiah melemah pada Februari 2018 sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan yang terutama disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

"Pada Februari 2018, secara rata-rata harian rupiah melemah sebesar 1,65 persen menjadi Rp 13.603 per dolar AS. Pernyataan Fed Chairman yang lebih hawkish mendorong ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga FFR (Fed Fund Rate) yang lebih cepat dan lebih tinggi," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Agusman di Jakarta, Kamis (22/3).

Hal tersebut, ujarnya, mendorong pembalikan modal asing dan tekanan pelemahan nilai tukar pada berbagai mata uang dunia termasuk Indonesia. Pelemahan rupiah diprediksi masih berlangsung pada awal Maret 2018 seiring dengan memburuknya sentimen pasar terkait dengan penerapan kebijakan perdagangan inward-oriented yang dikhawatirkan mendorong retaliasi dari negara lain.

"Bank Indonesia akan terus mewaspadai meningkatnya risiko ketidakpastian pasar keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar," ujar Agusman.

Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Yoga Affandi mengaku tidak menargetkan level tertentu terkait nilai tukar rupiah. Meski begitu, ia mengaku, Bank Sentral akan tetap memantau volatilitas dan daya saing rupiah terhadap mata uang regional.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA