Minggu, 6 Sya'ban 1439 / 22 April 2018

Minggu, 6 Sya'ban 1439 / 22 April 2018

Kurs Rupiah Diperkirakan akan Menguat Pekan Depan

Ahad 18 Maret 2018 12:46 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Andri Saubani

Petugas menghitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (14/3).

Petugas menghitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (14/3).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Rupiah pada tengah pekan lalu mengalami tren kenaikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan kurs rupiah pada pekan depan diperkirakan berada di level support Rp 13.758 per dolar AS dan resisten Rp 13.732 per dolar AS. Pasalnya, penguatan rupiah yang terjadi hingga pertengahan pekan kemarin dinilai mampu membentuk tren kenaikan.

Hanya saja, Analis Binaartha Securities Reza Priyambada mengatakan, tren tersebut masih harus kembali diuji ketahanannya. Hal itu seiring mulai adanya pembalikan arah melemah pada akhir pekan kemarin.

"Diharapkan pelemahan itu dapat lebih sementara. Seiring masih melemahnya laju kur dolar AS yang terimbas kondisi politik di dalam negerinya serta kembali membuat rupiah dapat menemukan momentum kenaikannya," jelasnya di Jakarta, Ahad, (18/3).

Reza menuturkan, laju rupiah di pekan kemarin mampu berbalik menguat. Bersamaan dengan melemahnya mata uang dolar AS karena merespon kondisi politik AS yang terganggu dengan adanya pemecatan Menteri Luar Negeri AS serta kekhawatiran terjadinya perang dagang AS-Tiongkok.

Nilai tukar rupiah, kata dia, menguat 0,25 persen dari sebelumnya yang melemah 0,18 persen. "Di pekan kemarin, rupiah sempat melemah ke level Rp 13.766 per dolar AS atau di atas sebelumnya di level Rp 13.795 per dolar AS," ujar Reza.

Sementara itu, level tertingginya dicapai di angka Rp 13.743 per dolar AS atau di bawah level sebelumnya yakni Rp 13.730 per dolar AS. "Laju rupiah pekan kemarin bergerak di atas target support Rp 13.782 per dolar AS dan resisten Rp 13.762 dolar AS," katanya.

Pada pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, neraca perdagangan Indonesia selama Februari 2018 tercatat defisit sebesar 0,12 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun dengan kurs Rp 13.700 per dolar AS. Hal itu karena laju impor selama Februari yang naik lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Selain itu, menurutnya pelemahan juga dipicu respon negatif pelaku pasar terhadap rilis Kementerian Keuangan yang mencatat total utang pemerintah hingga akhir Februari 2018 mencapai Rp 4.035 triliun. Angka itu naik 13,46 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 3.556 triliun.

Sebagai informasi, berdasarkan kurs Jisdor, pada Jumat lalu, (16/3), posisi mata uang rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 13.765 per dolar AS. Sebelumnya pada Kamis, (15/3), sebesar Rp 13.748 per dolar AS.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES