Jumat, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 Februari 2018

Jumat, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 Februari 2018

Kadin Ingatkan Pemerintah Soal Kesenjangan Ekonomi

Senin 12 Februari 2018 16:26 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Budi Raharjo

Salah satu potret kemiskinan di ibukota (ilustrasi).

Salah satu potret kemiskinan di ibukota (ilustrasi).

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Saat ini harga komoditas sedang membaik yang akan berpengaruh pada perbaikan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani menilai pertumbuhan ekonomi pada 2018 akan lebih baik ketimbang 2017. Hal ini karena harga komoditas mulai membaik dan diharapkan dapat membantu memperbaiki pertumbuhan ekonomi.

"Kita melihatnya tahun ini akan lebih baik, karena faktor harga komoditas, kalau lihat sejarahnya ketika harga komoditas naik maka ekonomi kita akan membaik," ujar Rosan ketika ditemui di Kantor Wakil Presiden, Senin (12/2).

Rosan mengingatkan agar pemerintah tidak terlalu terlena dengan membaiknya harga komoditas. Menurutnya, setiap harga komiditas naik maka akan diiringin dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, hal tersebut dapat meningkatkan gini rasio.

"Harus saya garis bawahi juga adalah setiap harga komoditas naik, pertumbuhan naik, dan gini rasio juga naik. Itu yang harus diperhatikan," kata Rosan. Gini rasio adalah cara untuk mengukur kesenjangan pendapatan dan kekayaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 mencapai 5,07 persen. Pertumbuhan ekonomi 2017 didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,95 persen, pembentukan modal tetap bruto tumbuh 6,15 persen dan konsumsi pemerintah tumbuh 2,14 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh konsumsi LNPRT yang tumbuh 6,91 persen, ekspor tumbuh 9,09 persen serta impor tumbuh 8,06 persen, meski impor ini merupakan faktor pengurang.

Konsumsi rumah tangga memberikan sumbangan terbesar dalam struktur PDB 2017 yaitu sebesar 56,13 persen, diikuti pembentukan modal tetap bruto 32,16 persen, ekspor 20,37 persen, konsumsi pemerintah 9,1 persen, konsumsi LNPRT 1,18 persen dan impor yang menjadi faktor pengurang 19,17 persen. Pertumbuhan ekonomi pada 2017 lebih baik dari periode 2014 sebesar 5,01 persen, periode 2015 sebesar 4,88 persen dan periode 2016 sebesar 5,03 persen.

Namun, pertumbuhan ekonomi 2017 yang sebesar 5,07 persen, di bawah ekspetasi Bank Indonesia yang sebesar 5,1 persen dan juga pemerintah yang sebesar 5,2 persen. Adapun pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di 2018 mencapai 5,4 persen (yoy), sementara Bank Indonesia mematok rentang pertumbuhan ekonomi di 5,1-5,5 persen.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES