Monday, 6 Ramadhan 1439 / 21 May 2018

Monday, 6 Ramadhan 1439 / 21 May 2018

Dua Ekonom the Fed Kritisi Bitcoin

Sabtu 10 February 2018 16:04 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Budi Raharjo

Bitcoin.

Bitcoin.

Foto: Reuters/Benoit Tessier
Uang virtual dianggap alternatif saat pembayaran tradisional dipandang mencurigakan.

REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK -- Bitcoin dan uang digital lainnya sejauh ini tak izinkan jadi kompetitor uang kartal sebagai alat bayar di banyak negara. Namun, jadi uang alternatif juga tak selalu berarti hal bagus.

Melalui tulisan yang dikutip Reuters pada Jumat (9/2), dua ekonom Kantor Federal Reserve New York, Michael Lee dan Antoine Martin menyampaikan, uang virtual dianggap alternatif di masa bentuk pembayaran tradisional dipandang mencurigakan. Misalnya pada 2015 saat Yunani tengah berusaha menangani masalah utangnya.

Saat itu, Yunani tertarik dan mentransaksikan Bitcoin dan mengesampingkan kekhawatiran kendali modal. Yunani bahkan mempertimbangkan keluar dari Uni Eropa (UE). Uang digital memang terbukti menyelesaikan persoalan saat situasi kurang dapat dipercaya. Tapi ini tidak kemudian menunjukkan tiap persoalan perlu pendekatan serupa, setidaknya di AS dan negara maju lainnya.

Memang, Bitcoin, Ethereum, Ripple dan uang digital lainnya makin populer. Meski belakangan juga mengalami penyusutan harga.

"Volatilitas ekstrem Bitcoin cenderung mereduksi fungsinya sebagai alat simpan berharga. Berbeda dengan uang tradisional yang dikelola bank sentral," ungkap Lee dan Martin.

Transaksi Bitcoin juga menyedot banyak energi dan waktu untuk memvalidasi transaskinya. Saat ini, transaksi Bitcoin diprediksi memakai energi sebesar 48 terawatt per jam. Jumlah itu setara energi untuk 4,4 juta rumah di AS.

Uang tunai dan metode pembayaran tradisional juga menawarkan kenyamanan transaksi, kelebihan yang relatif tidak didapatkan dari uang digital. "Secara mendasar, kami penasaran apakah sebuah metode pembayaran yang memang di desain dimana kepercayaan terhadap institusi telah hilang bisa senyaman seperti sistem dimana kepercayaan terhadap institusi melekat. Tapi keduanya kini muncul bersamaan," ungkap Lee dan Martin.

"Di dunia dimana semua hal dihargai dalam Bitcoin, itu berarti fluktuasi masif pada inflasi dan kegiatan ekonomi," kata Lee dan Martin.

Seperti yang diketahui, harga Butcoin saat ini sudah susut 70 persen dari level tertingginya yang nyaris 20 ribu dolar AS pada Desember 2017 lalu. Berdasarkan data Bitsmap, pada Jumat (9/2), harga Bitcoin berada di level 8.414,34 dolar AS.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES