Minggu, 6 Sya'ban 1439 / 22 April 2018

Minggu, 6 Sya'ban 1439 / 22 April 2018

Pemerintah Jamin Pasokan Listrik Jawa-Bali Saat Lebaran

Jumat 13 April 2018 10:18 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Indira Rezkisari

Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan keterangan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/3)

Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan keterangan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/3)

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Pembangkit sanggup menghasilkan megawatt lebih besar dibanding beban puncak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memastikan kesiapan keamanan pasokan tenaga listrik periode Hari Raya Idul Fitri tahun 2018, terutama untuk wilayah Jawa Timur dan Bali, di Area Pengaturan Beban (APB) Jawa Timur PT PLN, Kabupaten Sidoarjo, Jumat (13/4)

Jonan menjelaskan, untuk kondisi kelistrikan di Jawa Timur dan Bali saat ini, pembangkit yang beroperasi dapat menghasilkan 9.301,6 megawatt (MW), sementara beban puncak sistem Jawa Timur-Bali mencapai 5.572,39 MW. Khusus periode Hari Raya Idul Fitri, menurut Direktur Regional Bisnis PT PLN (Persero) Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, rata-rata beban puncak tertinggi sekitar 3.800 MW. Jadi, cadangan listrik mencukupi.

Pada kesempatan tersebut, PLN juga menyampaikan bahwa pihaknya akan membangun proyek sutet 500 kV Surabaya-Grati. Namun, karena jalur sutet tersebut berada di lokasi rencana induk pengembangan Bandar Udara Juanda, PLN akan mengubahnya menjadi underground cable (UGC) 500 kV yang akan melintasi bandar udara. Maka dari itu, PLN memohon dukungan terkait pengesahan rencana induk Bandar Udara Juanda agar segera diselesaikan, sebagai dasar pengajuan izin penetapan lokasi UGC.

PLN juga menyampaikan rencana APB Jawa Timur untuk melakukan pengalihan output Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) 2 dan 3 Gresik dari 500 kV ke 150 kV. Pengalihan output PLTGU ini dilakukan untuk meningkatkan pasokan Krian 1 dan 2, serta menambah daya mampu neto pembangkit 150 kV dengan memindahkan outlet 1 Gas Turbine (GT) Gresik dari 150 kV ke 500 kV. Hal tersebut dilakukan guna mencegah defisit pembebanan pada subsistem Krian 1 dan 2 pada tahun 2019-2020.

Pada saat beban rendah, dengan telah dilakukannya pemindahan outlet 1 GT Gresik dari 500 kV ke 150 kV, Reserve Shutdown pada PLTU Gresik 1 atau 2 dapat dilakukan. Karena itu, dengan tidak beroperasinya pembangkit tersebut pada saat beban rendah, hal itu menurunkan biaya operasi pembangkit dan pada akhirnya akan menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Pembangkit.

Diproyeksikan, pembebanan GT Gresik akan optimal pada tahun 2018-2019. Selanjutnya, pembebanannya akan turun menyesuaikan kebutuhan sistem setelah GITET 500 kV Waru atau GITET 500 kV Surabaya Selatan beroperasi (akan dioptimalisasi sesuai dengan kebutuhan Jawa).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES