Sunday, 6 Sya'ban 1439 / 22 April 2018

Sunday, 6 Sya'ban 1439 / 22 April 2018

Cina Pemegang Surat Utang Amerika Terbesar

Selasa 17 April 2018 09:24 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Teguh Firmansyah

Layar monitor menunjukan pergerakan grafik surat utang negara di Delaing Room Treasury (ilustrasi).

Layar monitor menunjukan pergerakan grafik surat utang negara di Delaing Room Treasury (ilustrasi).

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Surat utang AS yang dibeli Cina bertambah 8,5 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Cina terus meningkatkan kepemilikan surat berharga yang diterbitkan entitas AS dalam enam bulan terakhir. Peningkatan kepemilikan utang terjadi, meskipun, kedua negara sedang terlibat ketegangan ekonomi.

Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, kepemilikan Cina atas surat utang, surat perbendaharaan, dan surat berharga lain yang bersifat utang naik sebesar 8,5 miliar dolar AS (Rp 117 triliun) menjadi 1,18 triliun dolar AS (Rp 16.226 triliun) per Februari 2018.

 

"Cina pun tetap jadi kreditur asing terbesar di AS, di susul Jepang yang kepemilikan surat berharganya di pasar AS turun menjadi 1,06 triliun dolar AS (Rp 14.575 triliun) per Februari 2018 dari 1,07 triliun (Rp 14.713 triliun) pada Januari 2018," demikian dilansir Blomberg, Selasa (17/4).

Spekulasi makin menguat soal apakah Cina akan menggunakan kendali atas surat utang yang besar ini sebagai alat tawar dalam perang dagang Cina-AS. Duta Besar Cina untuk AS Cui Tiankai juga tak memberi sinyal Cina akan melonggarkan kepemilikan di pasar surat utang negeri Paman Sam sepanjang Maret lalu.

 

Para pengamat menilai, banyaknya variasi surat utang di pasar AS membuat Cina punya banyak opsi berinvestasi.

Di sisi lain, Cina tengah mengevaluasi dampak depresisasi yuan yang berjalan gradual seiring perang dagang antara AS-Cina. Pemimpin Cin juga dikabarkan pertimbangan pemimpin Cina terhadap sejumlah opsi terkait sengketa pedagangan dengan AS.

Seperti diketahu, AS dan Cina tengah saling berbalas pengenaan tarif impor terhadap ribuan barang. Hal itu memicu kekhawatiran di pasar keuangan.

Presiden AS Donald Trump menuduh Cina dan Rusia sengaja mendevaluasi mata uang mereka. Pernyataan yang Trump sampaikan melalui cuitan di Twitter itu bertolak belakang dengan temuan Departemen Keuangan AS yang menyatakan tak ada mitra dagang AS yang jadi penjahat mata uang.

Utang AS makin dalam pada Februari 2018 dengan kupon surat utang mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir yaitu 2,95 persen. Perusahaan pengelola investasi mengakui permintaan surat utang AS terus meningkat. Apalagi, bank sentral AS, The Federal Reserve, memprediksi rasio defisit anggaran AS akan makin lebar.

Pasar valas di Cina sendiri menunjukkan kelesuan pada Februari lalu. Hal itu adalah yang pertama kali terjadi dalam setahun belakangan akibat volatilitas pasar keuangan global. Pada 2017, yuan sempat menguat hingga 10 persen yang sayangnya terhambat kebijakan pasa modal yang diperketat dan membuat valas ramai keluar dari pasar modal.

Data Departemen Keuangan AS juga mencerminkan adanya pergerakan dana investor di pasar keuangan AS pada Februari. Nilai jual netto investor asing pada instrumen ekuitas di AS pada Februari 2018 mencapai 1,2 miliar dolar (Rp 16,5 triliun) dibanding nilai beli netto per Januari 2018 yang mencapai 34,5 miliar dolar AS (Rp 474 triliun).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES