Kamis 15 Oct 2020 16:42 WIB

Percy Schmeiser, Petani yang Melawan Monsanto Tutup Usia

Percy Schmeiser terkenal dengan perjuangan hukumnya melawan Monsanto.

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda
Pasangan suami istri Percy Schmeiser dan Louise Schmeiser. Percy tutup usia pada Selasa, 13 Oktober 2020, dalam usia 89 tahun.
Foto: EPA
Pasangan suami istri Percy Schmeiser dan Louise Schmeiser. Percy tutup usia pada Selasa, 13 Oktober 2020, dalam usia 89 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Percy Schmeiser, seorang petani asal Bruno, Saskatchewan, Kanada yang namanya dikenal karena perjuangan melawan hak paten mengenai modifikasi kanola secara genetik meninggal di usia 89 tahun pada Selasa (14/10). Sang anak, John mengatakan bahwa ayahnya menutup usia dengan tenang saat tertidur.

Selama ini, Schmeiser diketahui menderita parkinson. Namanya mendunia setelah perusahaan raksasa bioteknologi Monsanto menyeretnya ke pengadilan pada Agustus 1998.

Baca Juga

Kasus itu membawa perusahaan besar yang memperjuangkan hak atas kekayaan intelektualnya berperang melawan petani yang mempertahankan cara bercocok tanam secara tradisional. Dalam wawancaranya dengan CBC pada 2018, Schmeiser menyatakan dirinya tak mungkin melewati babak kehidupan yang satu itu jika tak ada dukungan dan bantuan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.

"Perusahaan miliaran dolar itu berhadapan dengan petani yang tak punya sumber daya yang imbang dan itu situasi yang sangat sulit," kata Schmeiser.

Monsanto menyebut pihaknya menemukan kanola yang telah dimodifikasi secara genetik untuk tahan terhadap herbisida Roundup di ladang milik Schmeiser. Perusahaan tersebut menuding Schemeiser menanam bibitnya tanpa izin dan melanggar hak atas kekayaan intelektual.

Petani biasanya menggunakan benih mereka dari panen satu tahun lalu untuk ditanam pada tahun berikutnya. Tetapi, jika membeli kanola Roundup Ready dari Monsanto, mereka harus membeli bibit baru setiap tahun.

Schmeiser tidak pernah membeli benih dari Monsanto. Di lain sisi, Monsanto mengeklaim bahwa dia dengan sengaja memanen dan menumbuhkan kembali bibit curian.

Schmeiser bersikeras bahwa benih Roundup Ready milik Monsanto terbawa angin, entah dari ladang sebelah atau truk yang berseliweran. Bibit itulah yang tumbuh di perkebunan miliknya dan karenanya menjadi miliknya.

Monsanto kemudian menggugat hingga ke Mahkamah Agung. Ujungnya, Schmeiser dianggap melanggar paten Monsanto, meski tidak harus membayar ganti rugi kepada perusahaan.

"Pada akhirnya, hasilnya bagus dan kami membawa perhatian dunia pada apa yang transgenik lakukan dan apa yang bisa dilakukan petani," kata Schmeiser.

Menurut Schmeiser, jika petani menanam produk atau benih di tanahnya sendiri, mereka harus memiliki hak untuk menyemai kembali. Hak itu tidak boleh diambil.

John mengatakan, kasus di pengadilan hanya salah satu dari bagian kehidupannya. Ia mengenang sang ayah sebagai sosok pengusaha yang berdedikasi.

"Saya mendapat hak istimewa hingga hari ini untuk menjadi putranya. Saat tumbuh dewasa, sangat jelas sejak awal tentang betapa dia peduli tentang komunitas dan keluarganya,” ujar John, dilansir CBC, Kamis (15/10).

Schmeiser menjadi anggota dewan kota selama sekitar lima tahun, menjalankan beberapa bisnis, dan mengelola pertanian. Dia menerima Mahatma Gandhi Award (2000), The Activists of the Year Award dari The Council of Canadians (2004), dan Advocate of Social Justice Award (2010).

Pada 2014, Schmeiser menerima Canadian Health Food Association Hall of Fame Award. Terlepas dari pergulatan ayahnya dengan Monsanto, John mengatakan sang ayah selalu berusaha meluangkan waktu bersama keluarga.

“Ayah juga menantang kami dengan cara yang baik, untuk memastikan bahwa apapun yang kami lakukan atau apapun yang kami pilih sebagai pekerjaan, ada sesuatu yang pasti mengalami kesulitan,” jelas John.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement